BRAWIJAYA SMART SCHOOL

Jl.Cipayung No 8-10 Malang

KEUTAMAAN KARAKTER RELIGI

10 - 01 - 2015 admin Berita, Kegiatan

 

KEUTAMAAN KARAKTER RELIGI

Oleh : Dwi Utami, M.Pd

Guru PPKn SMP Brawijaya Smart School

 

“Benteng utama untuk bisa cerdas dan selektif menghadapi kecanggihan tehnologi informasi dan komunikasi adalah dengan pemantapan karakter religi pada aktifitas pendidikan”

 

Indonesia saat ini  sedang gencar menerapkan sistem pendidikan karakter guna mendidik para generasi penerus bangsa menjadi manusia yang berkarakter. Pendidikan karakter dilaksanakan dengan menanamkan nilai-nilai karakter pada setiap matapelajaran maupun matakuliah yang diajarkan oleh semua instansi pendidikan kepada para siswa maupun mahasiswa. Menurut Kementrian Pendidikan Nasional (2010) terdapat 18 nilai karakter yang ditanamkan dalam pendidikan karakter, salah satunya adalah religius.

Menurut Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, Ph.D (dikutip oleh Suparlan, 2010) karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang dibuat. Sedangkan lebih lanjut lagi, Suparlan (2010) menjelaskan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha sengaja atau sadar untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusian yang baik secara objektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan, tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian, proses pendidikan karakter, ataupun pendidikan akhlak dan karakter bangsa sudah tentu harus dipandang sebagai usaha sadar dan terencana, bukan usaha yang sifatnya terjadi secara kebetulan.

Kata dasar dari religius adalah religi yang berasal dari bahasa asing religion sebagai bentuk dari kata benda yang berarti agama atau kepercayaan akan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia. Sedangkan religius berasal dari kata religious yang berarti sifat religi yang melekat pada diri seseorang (Thontowi, 2012). Religius sebagai salah satu nilai karakter dideskripsikan oleh Suparlan (2010) sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini siswa diharapkan mampu memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan buruk yang di dasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama. Pembentukan karakter Religius ini tentu dapat dilakukan jika seluruh komponen stake holders pendidikan dapat berpartisipasi dan berperan serta, termasuk orang tua dari siswa itu sendiri (E-learning Pendidikan, 2011).

Penekanan utama adalah bahwa Pembentukan karakter Religius ini tentu dapat dilakukan jika seluruh komponen stake holders pendidikan dapat berpartisipasi dan berperan serta. Yang dapat dikembangkan pada dunia pendidikan saat ini adalah adanya nilai – nilai plus pendidikan akademis yang mereka miliki dengan aktifitas – aktifitas berbasis religi, sebagaimana yang sudah banyak dilakukan oleh sekolah – sekolah di kota besar di Indonesia saat ini. Yaitu dengan menyusun kegiatan pembelajaran yang berbasis religi melalui rencana pembelajaran, kemudian melaksanakan aktifitas nyata berbasis religi contohnya antara lain :

  1. Dengan menyelenggarakan sholat dhuha berjamaah sebelum mulai aktifitas pembeljaaran akademis sebagai salah satu pembiasaan pada diri siswa

Dengan pembiasaan sholat dhuha berjamaah diharapkan saat menerima pembelajaran akademis siswa dalam keadaan telah bersuci dan berdoa disalah satu waktu yang afdhol untuk berdo’a.

Sebagaimana hadits berikut ini “Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah dari empat rakaat dalam mengawali harimu, niscaya Aku (Allah) akan menyukupimu di akhir harimu.” (HR. Abu Darda`).

  1. Mewajibkan mengikuti sholat berjamaah pada Dhuhur dan Ashar. Aktifitas ini memberikan pembiasaan sholat tepat pada waktunya dan akan membawa dampak pembiasaan tepat waktu dalam menyelesaikan kewajiban mengerjakan tugas akademis.
  2. Menyelanggaran pembelajaran Al qur’an yang dikenal dengan Smart Al quran sebagai salah satu bagian kurikulum internal sekolah. Dengan demikian siswa lebih mudah menghafal materi pembelajaran yang berbentuk akademis bila telah dibiasakan membaca al qur’an bahkan bila berupaya menghafal.
  3. Mengadakan peringatan hari besar agama tidak hanya sekedar seremonial tapi dengan adanya praktek langsung sehingga betul – betul memberikan pengalaman belajar pada siswa.

Ini adalah pengembangan religi pada siswa muslim dan sudah seharusnya ada kegiatan sepadan yang harus dilakukan oleh yang non muslim.contohnya : adanya kajian bible pada jam yang bersamaan dengan siswa muslim belajar Alqur’an , adanya kegiatan Ritmis bagi siswa Nasrani yang dilakukan pada saat yang muslim Pondok Romadlan.

Uraian diatas adalah aktifitas disekolah dalam pengembangan karakter religi, namun hal ini tidak bisa terlepas dari kerjasama yang baik dengan orangtua dalam peningkatan karakter religi dirumah. Karena bagaimanapun waktu yang lebih banyak di rumah dan agen sosialisasi karakter yang paling primer atau utama adalah keluarga.

Inilah pentingnya karakter religi menjadi kunci utama dalam pembentukan karakter peserta didik sehingga dapat dengan mudah menyesuaikan diri pada segala tantangan zaman utamanya di era globalisasi yang menuntut generasi Indonesia dapat berjuang melawan tantangan zaman , tantangan tehnologi informasi dan komunikasi.

Intinya pelajar Indonesia saat ini harus dipertebal karakter religinya sehingga mampu menghadapi kecanggihan tehnologi yang akan dapat mempercerdas siswa untuk dapat selektif menyikapi suguhan – suguhan atau tampilan IT yang semakin canggih.

DAFTAR RUJUKAN

Elearning Pendidikan. 2011. Membangun Karakter Religius Pada Siswa Sekolah Dasar. (Online), (http://www.elearningpendidikan.com)

Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Pendidikan Karakter. (Online), (http://www.perpustakaan.kemdiknas.go.id)

Suparlan. 2010. Pendidikan Karakter: Sedemikian Pentingkah dan Apa yang Harus Kita Lakukan. (Online), (http://www.suparlan.com)

Thontowi, A. 2012. Hakekat Religiusitas. (Online), (http://www.sumsel.kemenag.go.id)

 

http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2013/12/05/7637/berbahagilah-bagi-anda-yang-rajin-shalat-dhuha.html

 

Download this article as an e-book